rumah kaca

Wednesday, October 25, 2006

Kau dan Tawa

Awalnya aku bertemu imaji.
Merogoh benak menggusur logika.
Aku tersesat, gelap...

Suatu ketika aku tersadar.
Imaji itu telah berganti
menjadi sosok seorang bidadari.

Dirimu bukan sebuah imaji
yang tersirat dalam sebuah diksi.
Dirimu adalah sebuah empiri
yang terpancang erat di altar hati.

Wahai adinda, dengarkan tuturku.
Jadikan aku bunga tidurmu.
Di kala malam gulita.
Di saat sepi tertawa.

Wahai adinda, dengarkan tuturku.
Dirimu serupa taman berbunga-bunga.
Parasmu sejuk membelai jiwa.
Hatimu putih serupa adinda.

Adinda, itulah namamu.
Dirimu adalah kebahagiaan.

Jatinangor, 2006

posted by Lelaki Senja at 6:09 AM 0 comments

Engkau Bulan Aku Penjaga Malam

Di suatu malam temaram,
aku bersimpuh di selasar awan.
Putih, sejuk, riang.
Ku tatap lekat sebuah empiri
Serupa imaji.

Cahaya itu menembus altar jiwa.
Merogoh asa di sebuah dada.
Dada seorang lelaki.

Lelaki ini penjaga malam,
di sebuah malam temaram.
Dipandangnya bulan, dijaganya.
Dari nestapa dalam gulita.
Agar bulan selalu ceria.

Bulan...
Dirimu keceriaan.

Bulan...
Dirimu kebahagiaan.

Bulan...
Sebuah nama untuk keindahan.

Bulan, engkau kemayu,
sewarna merah muda.
Merah, lelaki ini menyukai warna itu.

Engkau bulan aku penjaga malam
Jarak itu terbentang.
Semoga cinta tak berjarak.

Jatinangor, 2007
posted by Lelaki Senja at 6:02 AM 0 comments

Tuesday, October 17, 2006

Teman...

Teman...
Kau begitu indah.
Kau anggrek bulan,
tersaput kabut malam.

Teman...
Meski kita hanya sebatas teman.
Serupa anggrek bulan
berteman sinar bulan.

Hening...
Menyejukkan.

Jatinangor, 2006
posted by Lelaki Senja at 7:26 AM 0 comments

Berjuang Melawan Ingat

Suatu ketika kenangan muncul ke permukaan.
Beriak ombak mendebur nestapa.
Kuda laut tampak kuyup
oleh minyak kenangan yang
menggenang samudra benak.

Saat ingatan menampakkan rambutnya,
bergegas lara merajut setangkai saraf otak,
menayangkan imaji-imaji kelabu,
tentang masa yang sendu.

Kenangan itu masih belia.
Entah harus dirawat
atau dibuat sekarat.

Lelaki itu semakin senja.
Menatap ke celah-celah asa.
Ada yang berjuang melawan lupa.
Tapi tidak lelaki itu.
Ia berjuang melawan ingat.

Jatinangor, 2006
posted by Lelaki Senja at 7:20 AM 0 comments

Tubuh Kecil

Tertanam kaki bersimpuh lara.
Tertangkup tangan merenda asa.
Senandung lirih beranjak meminta,
mengelus jiwa mendengar irama.

Rampak gendang kaki menderap.
Bertabur mata memandang sipit.
Menepis nurani menebas asa.

Tubuh kecil…
Terbujur kaku di altar bumi.
Dingin menyergap mendera-dera.
Mananti asa tak kunjung tiba.

Tubuh kecil…
Tersentak raga oleh jemari.
Membelai pasti teriring sensasi.
Membawa ceria mengganti nestapa.

Tubuh kecil…
Memandang mata menerobos cakrawala.
Bergegas badan menyusuri hari.
Terbangun dari kisah silam.

Jatinangor, 2006
posted by Lelaki Senja at 7:14 AM 0 comments

Wednesday, October 04, 2006

Sakit Gigi

Nyut...nyut...nyut...
Irama itu berdendang lagi,
bergumam di pelataran geraham.
Menaungi sekujur pipi, menebal,
lebih besar dari pipi sebelah.

Glek...
Benda kuning melintas bibir,
Bertemu muka riak asam,
Terhimpit air deras, mekar,
Tertahan dahan esophagus, seandainya,

Nyut...nyut...nyut...
Tak lekang nada berdendang,
Ku tabur waswas sehelai kertas panas,
Meredam rima kesakitan itu,
Meski ia sudah tanak,
nada itu kini tercekat.
Mungkin...

Ya sudah...
Aku hanya mencoba.
Aku tetap ceria meski raga cedera.

Jatinangor, 2006
posted by Lelaki Senja at 12:28 PM 0 comments

Kisahku, Kisahmu, Kisah Kita

Suatu masa aku ditimang,
Penuh sayang juga belaian.
Riang..riang..riang..
Bersahabat dengan tubuh tanpa dosa.

Ketika masa sudah tanak,
aku bergegas memegang kitab.
Tertanda manusia bijak.
Kitab..kitab..kitab..
Melekat erat dalam jemari.
Serupa angin mendekap debu.
Pada sebuah putaran waktu.

Kini kerut beriak di dahi.
Artinya aku tak muda lagi.
Diriku mengenal birahi.
Menyapa aksi berbagi dimensi.
Kitab itu kitab cahaya.
Redup oleh birahi.
Menggumpal hitam, legam,
sirna, musnah, seketika.

Sebuah kisah di pelataran Jatinangor.
Kisahku, kisahmu, kisah kita.
Terdampar di selasar kenangan.
Penuh sebal, sesal, bebal.

Aku terbangun setengah sadar.
Terbingkai raut kisut.
Terjaga pada sebuah lipatan buana.
Kenangan...
Ia tamu tak diundang.

Jatinangor, 2007
posted by Lelaki Senja at 12:25 PM 0 comments

Perempuan Imaji II

Di kala cinta masih muda,
perempuan itu tersenyum, tak lekang.
Terbenam dalam bayang-bayang riang.

“Cinta itu bahagia,“ katanya.

Saat cinta terkubur duka.
perempuan itu merajut benci.
Merenda sehelai tirai hitam

“Cinta hanya semasa,” katanya.

Cinta menyerupai fatamorgana?

“Itulah cinta,” katanya.
posted by Lelaki Senja at 12:24 PM 0 comments

Perempuan Imaji

(Bagian I)

Suatu ketika di kala senja,
perempuan itu memadu rasa.
Bertengger pada sehelai dahan,
milik pohon bernama cinta.

Perempuan itu tengadah menatap langit.
Awan putih berarak risih.
Seperti enggan ditatap lirih.
Angin pagi menari riang.
Menyibak raga sedang-sedang.

Saat matahari berganti rembulan,
perempuan itu beranjak pulang.
Lekas ia menghilang.
Meninggalkan jejak kenangan.
Tentang pagi cerah.
Berteman senja menyapa cinta.
Hanya sekejap…

Sirna tertelan sinar rembulan.
Hening serupa malam.
Tanpa sesuara.
Karena semua hanya fatamorgana.
Mungkin bagi perempuan itu.
Tapi tidak bagi lelaki ini.
Tak lelah ia merenda asa.
Merajut cinta yang hilang.
Dalam kesendirian...

Mati jiwa mati rasa.
Tapi tidak logika ini.
Ia hidup dan berkembang,
demi menggapai sebuah harapan.
posted by Lelaki Senja at 12:22 PM 0 comments

Sunyi...Sepi...

Aku sendiri dalam hening malam, berteman sepi. Sunyi. Sendiri. Di sebuah rumah buku, sebuah taman berbunga-bunga. Tirai mata sedikit tersibak, memancar sinar lelah, membuncah, setelah tertahan tiga belas bilangan jarum jam. Detik mendetak dengan angkuh, menambah angkuh hening malam yang mencekam, dalam kesendirian. Seuntai nada mengalun indah, menyeruak dari ribuan lubang kecil, menyentuh hati, agar selalu hati-hati, pada hidup yang tak pasti. Sesekali terdengar geraman mesin penggerak, seperti ombak yang beriak.

Lelaki itu sedang menanti, sang fajar yang belum terbangun, ayam jantan yang belum bersenandung, sembari termenung, mungkin tercenung, tapi tidak jari itu, ia terus menari, membongkar isi hati, dalam sebuah sunyi. Sepi.

Tirai itu mulai menutup, setelah sekian lama tersibak. Juga jari itu, mulai mengatup, seiring pintu hati yang perlahan beringsut. Kini, lelaki itu ingin menjemput pagi, di sebuah taman berbunga-bunga, dalam sebuah imaji.

Pagi, lekas datang, sapa lelaki itu, hapus garis-garis lelah itu, agar berganti garis yang menyimpul di sudut bibir.
posted by Lelaki Senja at 12:17 PM 0 comments