Kau dan Tawa
Merogoh benak menggusur logika.
Aku tersesat, gelap...
Suatu ketika aku tersadar.
Imaji itu telah berganti
menjadi sosok seorang bidadari.
Dirimu bukan sebuah imaji
yang tersirat dalam sebuah diksi.
Dirimu adalah sebuah empiri
yang terpancang erat di altar hati.
Wahai adinda, dengarkan tuturku.
Jadikan aku bunga tidurmu.
Di kala malam gulita.
Di saat sepi tertawa.
Wahai adinda, dengarkan tuturku.
Dirimu serupa taman berbunga-bunga.
Parasmu sejuk membelai jiwa.
Hatimu putih serupa adinda.
Adinda, itulah namamu.
Dirimu adalah kebahagiaan.
Jatinangor, 2006

