rumah kaca
Friday, December 22, 2006
Hujan
Rinai hujan jatuh menderas.
Memekar membasahi raga.
Bersama butir mutiara.
Membawa elegi hati
yang menuruni lekuk pipi.
Hujan datang lagi.
Setelah sekian lama berlari.
Saat rindu membuncah,
menanti pelangi
di butir akhir.
Hujan sore itu.
Datang memapah duka.
Menggeser duduk sebingkai asa.
Untuk sekedar berteriak
“Dulu...”.
Hujan...
Berhentilah!
Jatinangor, 2007
Memekar membasahi raga.
Bersama butir mutiara.
Membawa elegi hati
yang menuruni lekuk pipi.
Hujan datang lagi.
Setelah sekian lama berlari.
Saat rindu membuncah,
menanti pelangi
di butir akhir.
Hujan sore itu.
Datang memapah duka.
Menggeser duduk sebingkai asa.
Untuk sekedar berteriak
“Dulu...”.
Hujan...
Berhentilah!
Jatinangor, 2007
Monday, December 11, 2006
Sebuah Cerita di Kesunyian
Sebuah cerita di kesunyian.
Lara dalam genangan darah.
Saat jemari terhimpit mayat beku,
terasa dingin sebentuk cadas jayawijaya.
Dalam derap langkah tentara yang
tertawa memecah sunyi.
Dalam sunyi cerita bermula.
Dari pengetahuan yang
dipermainkan dalam kuasa.
“Bunuh..bunuh..bunuh rakyat jelata!”
Begitu ujar penguasa.
Sebab mereka tidak tahu apa-apa
selain rasa lapar dan bau busuk sampah.
Sebuah cerita di kesunyian.
Berakhir pada tragedi.
Tebas kepala demi kuasa.
Tembak dada demi harta.
Lalu dikemas serupa mitos bagi
media yang tunduk pada kuasa.
Sunyi semakin sunyi
Menanti tragedi jilid seribu
Jatinangor, 2007
Lara dalam genangan darah.
Saat jemari terhimpit mayat beku,
terasa dingin sebentuk cadas jayawijaya.
Dalam derap langkah tentara yang
tertawa memecah sunyi.
Dalam sunyi cerita bermula.
Dari pengetahuan yang
dipermainkan dalam kuasa.
“Bunuh..bunuh..bunuh rakyat jelata!”
Begitu ujar penguasa.
Sebab mereka tidak tahu apa-apa
selain rasa lapar dan bau busuk sampah.
Sebuah cerita di kesunyian.
Berakhir pada tragedi.
Tebas kepala demi kuasa.
Tembak dada demi harta.
Lalu dikemas serupa mitos bagi
media yang tunduk pada kuasa.
Sunyi semakin sunyi
Menanti tragedi jilid seribu
Jatinangor, 2007
Friday, December 01, 2006
Saya Ingin
Saya ingin menangis...
Tapi karena saya lelaki maka saya tidak boleh menangis.
Saya ingin terlelap...
Tapi dunia membuat saya terjaga oleh derita.
Saya ingin ceria...
Tapi nestapa masih menggelayut mesra di dinding jiwa.
Saya ingin pulang...
Tapi sang waktu sudah terlalu tua untuk beranjak.
Saya ingin menggapai asa meski sejenak...
Tapi sesuatu lebih menginginkan saya untuk diam.
Jatinangor, 2006
Tapi karena saya lelaki maka saya tidak boleh menangis.
Saya ingin terlelap...
Tapi dunia membuat saya terjaga oleh derita.
Saya ingin ceria...
Tapi nestapa masih menggelayut mesra di dinding jiwa.
Saya ingin pulang...
Tapi sang waktu sudah terlalu tua untuk beranjak.
Saya ingin menggapai asa meski sejenak...
Tapi sesuatu lebih menginginkan saya untuk diam.
Jatinangor, 2006

