Friday, May 18, 2007

Merindukan Peluk

Di saat bulan memutih
Dan kelam yang menghitam
Aku bertanya dalam gagu:
Dimana kehangatan?

Jatinangor, 2007

Seseorang Berkata

Kemarin seseorang berkata padaku.
Hidup seperti sepasang tangan.
Sebelah kanan menggenggam senyum,
sebelah kiri mengekang tangis.
Seperti inikah hidup?

Aku menjawab:
Biarkan tanganmu saling memeluk.
Dan berdoalah.
Sebab kamu telah mati kemarin.

Jatinangor, 2007

Wednesday, May 09, 2007

Barak

Adalah barak yang sunyi,
diam dengan segala pelanggaran HAM.
Bersama dinding beku yang menjadi mata,
dan lantai-lantai rapuh yang menopang
para pendekar bertubuh kekar
yang menempa tulang menjadi pedang.

Dan adalah raga-raga muda,
dengan mulut terjahit benang-benang senioritas.
Merangkak meraih secangkir air arogansi.
Lalu direguk dan menjadi mata ketiga.

Pembelajaran datang bersama derap langkah di pagi hari.
Bermandikan tarian kepalan bumi, langit, dan bumi.
Menghasilkan jurus pukulan dua setengah kancing
sebagai ganti genggam perkenalan yang
menjadi selimut kelembutan aparatus ideologi.

Ini bukan basa basi.
Sebab peti jenazah datang silih berganti.
Pulang ke kota asal.
Bertabur doa,
formalin,
juga permintaan maaf.

Jatinangor, 2007

Hai Kawan

Hai kawan...
Aku ingin cepat lulus,
sama seperti mereka yang sudah wisuda.
Memakai toga adalah suatu kebanggaan,
meski gelar sarjana Indonesia sering diabaikan.

Hai kawan...
Setelah lulus aku ingin bekerja,
menjadi bawahan kapitalis muda.
Lalu aku menjadi kaya.
Dan menjadi kapitalis berikutnya.

Hai kawan...
Setelah kaya aku akan menikah
bersama istri yang cantik bagi media
Pedicure...
Manicure...
Tekukur...

Hai kawan...
Jika kelak anakku lahir,
akan kubuat ia berpikir.
Bahwa hidup harus ditertawakan.

Ha..ha..ha..ha..
Hi...hi...hi...hi...
Hu..hu..hu..hu..
He..he..he..he..
Ho..ho..ho..ho..
Hoeks....cuih....

Hai kawan...
Masih bisakah kamu tertawa,
atau memang alur kehidupan
tak bisa dilawan.
Sebab manusia butuh kekayaan.
Dan bukan kebersamaan.

Jatinangor, 2007