Saturday, June 30, 2007

She

Ingin jadi tisu saat matanya basah.

Ingin meminjamkan bahu saat ia lelah.

Ingin selalu terjaga saat ia lelap

Ingin memberikan mata saat ia gelap

Ingin jadi he bagi she


Jatinangor, 2007

Wednesday, June 27, 2007

Lamunan

Aku sudah lelah menangkapmu
yang berlari di jalan akalku.
Kupenjarakan tubuhmu dalam sorot mataku.
Tapi kau kabur dan memecah diri.
Lagi-lagi berlari melintasi rute pikiranku.
Kau memang nakal, kata.

Jatinangor, 2007

Monday, June 25, 2007

Nafas Hidup

Seperti kulit yang merindukan sentuh.
Seperti mata yang merindukan cahaya.
Seperti telinga yang merindukan bunyi.
Aku ingin menjadi denyut dalam simpul jantungmu.

Jatinangor, 2007

Saturday, June 23, 2007

Bunga dan Bulan

Selamat malam bulan.
Hari ini aku ingin menampung sinarmu, merapikan rambutmu
yang tercecer dihembus angin malam.
Tapi kau harus mendengarkan ceritaku.
Tadi aku bertemu seorang perempuan.
Ia seperti bunga berjalan, harum.
Mencium aromanya membuat kelopak hatiku
mekar dan tak lagi berbau sengit.

Malam bulan. Kau seharusnya berterima kasih
kepada perempuan itu, si bunga berjalan.
Sebab ia membiusku untuk mencuri matahari
dan meletakkannya di
tengah-tengah putik hatiku.
Lalu kau bisa muncul setiap waktu bukan?
Selamat siang bulan. Aku pergi dulu.

Jatinangor, 2007

Kita, Kata dan Luka

Inilah akhir pencarian itu.
Tak lagi ingin mencari cinta.
Kau datanglah sendiri padaku.
Jangan takut!
Akan kuterima kau baik-baik.
Tapi jangan datang sekarang.
Nanti saja ketika angkuhku padam.

Kau tahu aku luka.
Dan kau sadar aku telah membuat luka beberapa orang.
Aku telah kuyup dengan darah yang keluar dari luka menganga itu.
Ah...kenapa aku harus menjelaskannya padamu.
Sebab kita adalah luka itu.

Jatinangor, 2007